PEMERASAN DAN PUNGLI TETAP MARAK, TKI JADI KORBAN DAN BARANG BAWAAN HILANG

image

Meski sudah beberapa kali dijanjikan untuk memberikan pelayanan terbaik bagi para TKI / TKW yang tergabung dalam BMI (BURUH MIGRAN INDONESIA) pulang ke tanah air masih saja mendapatkan perlakuan yang kurang adil dan tidak aman. Hal ini masih terlihat dibeberapa bandara di Indonesia masih terasa kurang ramah dalam pelayanannya, khususnya terhadap TKI yang pulang ke Indonesia, negara asalnya.

Dari berbagai sumber melaporkan dari para TKI/TKW yang tersebut merupakan  pahlawan devisa negara, melaporkan adanya pelayanan di bandara kepada salah satu media cetak soal pungli sampai penyanderaan barang bawaan dengan alasan tidak masuk akal masih jadi yang utama.

Seperti yang dialami Endang, seorang TKI/TKW yang tergabung dalam BMI asal tempat kerja di  Hong Kong,  warga Bogor  Jawa Barat yang pada tanggal 28 april 2010 silam pulang liburan ke tanah air. Setibanya di bandara Sukarno-Hatta, seperti biasa dirinya  keluar melalui pintu terminal 2 yang tertera di Tiketnya. Saat itu pula bersamaan dengan beberapa TKI/TKW dari BMI dari berbagai negara tempat asal bekerjanya. Namun saat hendak menuju pintu keluar Endang dihadang oleh seorang perempuan. Dalam penjelasannya kepada pers, Endang sempat melihat tanda nama petugas tersebut, maka dirinya pun tidak tahu siapa nama petugas bandara tadi saat memberikan keterangnnya pada pers.

saya dibentak sambil ditunjuk muka saya, lalu di katain seperti begini, Kamu TKW ya..?, nggak bisa keluar seenaknya. Kamu harusnya pakai travel !!!.” ungkap Endang kepada pers media nasional.

Bentakan tersebut tentu saja membuat dirinya tercengah, padahal selama di Hong Kong tidak satupun petugas di bandara Hong Kong yang suka mengeluarkan kata kasar seperti petugas bandara di Indonesia.

saya sampai sakit hati kok bisa ya di negeri sendiri seperti itu. Muka saya ditunjuk-tunjuk kayak maling. " Keluhnya yang sampai saat ini menyayangkan perlakuan dari petugas bandara.

Di pintu terminal 2 Endang dipaksa untuk pulang mengunakan jasa travel yang sudah ada. Namun dia menolak, karena sudah ada jemputan dari keluarganya, dan sudah melaporkan ke konter kedatangan TKI/TKW yang tergabung BMI. Akan tetapi  laporan dari keluarga Endang dengan petugas konter tersebut tidak membuat petugas yang berseragam dinas bandara merasa tidak puas. Endang menegaskan kepada pers bahwa petugas-petugas tersebut mengenakan seragam Bea Cukai.

Petugas itu justru tetap menunjukan jari tangannya ke arah wajah Endang dengan kasar  sambil menghalang-halangi jalannya.  Endang tetap bersikukuh keluar seperti tulisan yang tertera di Tiketnya. Namun ternyata masalah belum selesai, karena salah teman petugas tersebut  juga ikut mengejar Endang dan tetap menghalangi langkahnya.

Mbak, kalau mbak nggak nurut sama teman saya nanti kena masalah lho, sudah yang enak enak aja !,'' ujar teman si petugas berseragam Bea Cukai Bandara.

Endang akhirnya berhasil keluar dari pintu terminal 2 bandara Soekarno-Hatta, akan tetapi  ada salah satu koper miliknya yang tidak bisa keluar, karena di tahan oleh petugas imigrasi tersebut, herannya lagi ketika Endang menanyakan mengapa barangnya tidak bisa diambil, petugas tersebut tetap tidak mau memberikan keterangan yang jelas, justru sebaliknya malah memaki si Endang.

Kalau andaikan barang bawaan saya berupa  narkoba atau barang terlarang lainnya, jangankan koper saya yang harus di tahan, saya sendiripun bersedia di tahan. Tapi memang didalam koper saya tidak ada barang-barang terlarang, isinya hanya pakaian, perlengkapan wanita dan barang-barang bekas dari majikan saya. " tegas Endang kembali kepada pers.

Pasti saya sudah ditangkap polisi tentunya saat saya masih di bandara Hong Kong sebelum sampai disini kalau memang saya membawa barang terlarang. Tapi petugas di bandara Soekarno-Hatta disini ketika saya tanya malah bilang hanya ada masalah. Katanya barang itu bisa keluar kalau saya mau membayar sebagai imbalannya. Tidak tanggung-tanggung petugas terminal pintu 2 bandara Soekarno-Hatta meminta uang untuk tebusan koper saya sebesar Rp 2 juta.'' Ungkap Endang kembali kepada pers media nasional yang mewancarainya. Ini tentu membuatnya kaget karena harga barang dikoper itu tidak sampai segitu nilai harganya.

Itu barang-barang pemberian dari majikan saya, sepatu, kaus bekas, speaker yang harganya cuma HK$ 200.  Kok segitu mahalnya harus bayar tebusan koper Rp. 2 juta. Dikiranya saya di sana gampang apa cari uang, saya di sana juga jadi kuli. Kok tega-teganya betugas bandara Soekarno-Hatta memperlakukan saya seperti ini. Sedangkan orang-orang Hong Kong atau para petugas apapun di Hong Kong tidak seperti para petugas dan pelayan masyarakat di Indonesia ini !." Sesal Endang terhadap pelayanan para petugas bandara Soekarno-Hatta.

Sampai saat ini setelah kembali lagi  ke Hong Kong, Endang  tidak pernah mendapatkan koper miliknya kembali yang tidahan oleh petugas bandara Soekarno-Hatta.

"Dunia Akhirat saya nggak rela kalau barang saya diambil orang caranya seperti itu tadi. Biarlah orang-orang itu puas mengambil barang yang bukan miliknya ! '' harap Endang yang mengaku heran mengapa bandara di Indonesia masih kurang nyaman untuk para TKI/TKW.

Sunggun memprihatinkan dan bahkan memalukan sekali bila kasus-kasus tersebut masih terulang kembali menimpa para TKI/TKW. Saya harap imbauan yang tulus ini dari saya anak  negeri asal Indonesia, memohon adanya pelayanan yang lebih ramah, aman dan menghargai HAM untuk kami para TKI/TKW yang tergabung didalam BMI.  Kami ini juga manusia yang punya hati dan kami juga yang tidak sedikit memberi andil untuk negara ini dalam pemasukan pajak untuk pendapatan negara.

Janganlah manfaatkan keberadaan kami atas kedatangan kami para TKI/TKW dari BMI  yang selalu lemah tak ada daya dihadapan kalian orng-orang berseragam dinas resmi didalam pelayanan masyarakat. Hormatilah dan janganlah disalah gunakan BAJU SERAGAM DINAS KENEGARAAN yang selalu dihormati oleh anak-anak negeri.

Kami para BMI mohon hargailah perjuangan kami yang telah mengemban sebagai PAHLAWAN DEVISA NEGARA untuk Indoneisa,  dan mohon sambutlah kepulangan kami para BMI di setiap bandara seluruh Indonesia dengan sambutan pelayanan yang ramah, aman dan manusiawi. Kami akan merasa bangga sebagai anak negeri Indonesia bila pemerintah pusat dan daerah yang bersangkutan memberikan perlindungan dan sambutan yang RAMAH dan RASA NYAMAN disetiap bandara seluruh Indonesia..

TKI/TKW Bukan Sekedar Buruh Migran Indonesia, Tetapi Pahlawan Negara Indonesia Untuk Devisa Negara

Kiriman uang dari para  tenaga kerja Indonesia atau TKI, yang bekerja di luar negeri, ke dalam  negeri pada tahun 2009 sekitar Rp 62 triliun. Nilai kiriman uang  dari TKI tersebut cenderung terus meningkat seiring semakin banyak TKI  yang bekerja di luar negeri.

Kepala Biro Humas Bank Indonesia  Difi A Johansyah, 14 Mei 2010 di Jakarta, menjelaskan, valuta asing  yang dikirim para TKI tersebut tidak masuk ke dalam cadangan devisa.  Namun, remittance TKI tersebut memperbanyak stok valuta asing di pasar  sehingga ikut berperan dalam menjaga stabilisasi nilai tukar rupiah.

Kiriman  uang (remittance) TKI yang dikelola oleh bank pada tahun 2009 mencapai  Rp 61 triliun, sementara yang dikelola Penyelenggara Kegiatan  Usaha Pengiriman Uang (KUPU) mencapai Rp 940,83 miliar. Adapun total  dana kiriman dari luar negeri, berdasarkan catatan Kompas, pada 2008  mencapai Rp 400 triliun.

Kiriman uang TKI cenderung terus  meningkat. Pada tahun 2006, remittance TKI mencapai Rp 50 triliun, tahun  2007 jumlahnya sebesar Rp 55 triliun, dan tahun 2008 mencapai Rp 61  triliun.

Turunnya pengiriman TKI ke Malaysia tahun 2009 membuat  nilai remittance TKI pada tahun tersebut stagnan di level Rp 61 triliun.  Pada 2010, nilai remittance TKI diperkirakan meningkat lagi seiring  rampungnya komite bersama Indonesia dan Malaysia membahas  persoalan-persoalan seputar pengiriman TKI.

Difi menjelaskan,  dari Rp 61 triliun remittance TKI pada 2009, terbesar berasal dari  Malaysia, mencapai Rp 21,5 triliun. Dari Arab Saudi Rp 20 triliun dan  sisanya dari negara-negara lain, seperti Hongkong, Korea Selatan, dan  Jepang.

Jumlah TKI yang bekerja di Malaysia dan Arab Saudi memang  relatif besar dibandingkan dengan yang bekerja di negara-negara lain.

Sekretaris  Perusahaan PT Bank Negara Indonesia (BNI) Tbk Intan Abdams Katoppo  menjelaskan, total transfer dana dari luar ke dalam negeri yang melalui  BNI pada 2009 mencapai Rp 165 triliun. Namun, tidak diketahui berapa  porsi remittance dari TKI. Adapun pengiriman uang dari dalam ke luar  negeri selama triwulan I-2010 Rp 52,2 triliun.

Menurut Direktur  Utama Bank Bukopin Tbk Glen Glenardi, pihaknya sedang mengkaji pembukaan  kantor perwakilan di Arab Saudi. Hal ini untuk menangkap peluang  remittance dari TKI di negara tersebut.

”Kami sudah memulai  bisnis di Arab Saudi dengan membiayai pembangunan hotel di Mekkah,” kata  Glen saat penandatanganan kerja sama dengan Kementerian Agama soal  penerimaan setoran pembayaran haji secara online.

Analis  Madya Senior Akunting dan Sistem Pembayaran BI Ida Nuryanti  menambahkan, selain melalui bank, pengiriman  uang dari TKI juga dikelola oleh pihak lain, yaitu KUPU, baik berbentuk  badan usaha maupun perorangan.

Hingga akhir tahun 2009, total  KUPU yang telah memperoleh izin dari BI mencapai 60 pihak. ”Sebenarnya  ada ratusan KUPU yang beroperasi, namun yang mendaftar hanya sebagian.  Itu karena kemungkinan mereka tidak mau repot dan enggan dipungut  pajak,” kata Ida.

Menurut Ida, BI akan terus berupaya agar  seluruh KUPU yang beroperasi terdaftar di BI. Dengan terdaftarnya  seluruh KUPU, transfer dana akan lebih transparan dan aman. Ini bisa  mencegah pelarian dana milik TKI. ”Selain itu, juga bisa mencegah  praktik pencucian uang,” ujar dia.

Peraturan Bank Indonesia, kata  Ida, tidak bisa menghukum KUPU yang tidak mendaftar. Karena itu,  undang-undang Transfer Dana yang kini dibahas di DPR sangat penting  segera diselesaikan. Dengan undang-undang tersebut, KUPU yang tidak  mendaftar bisa dikenai sanksi pidana.

(Kompas)

Comments

Santi's picture

Mbak Endang, dari tadi ngomong nggak jelas ttg petugas bandara. Pertama ngomong bea cukai, lalu koper ditahan imigrasi. Asal tau aja, di bandara itu ada yg namanya BNP2TKI, mereka itu yg biasanya ribut sama TKI yg baru datang. HOOOi mana nich orang BNP2TKI, kog pada nggak berani ngasih penjelasan kalau itu bukan CIQ.

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
CAPTCHA
Tulis kata-kata di bawah ini, besar-kecil huruf tidak penting.