Garuda Indonesia Wisuda Pilot Baru Angkatan ke enam dari BIFA
Garuda Indonesia hari ini Sabtu (26/05) kembali mewisuda 25 pilot baru dari sekolah penerbang “Bali International Flight Academy (BIFA)”.
Pilot-pilot yang baru diwisuda tersebut merupakan pilot Garuda angkatan ke enam yang mendapatkan pendidikan di BIFA. Acara wisuda dan penyerahan para pilot tersebut dilakukan oleh Robby Djohan, Chairman BIFA kepada Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Emirsyah Satar di Four Seasons Hotel, Jakarta.
Seluruh pilot angkatan ke enam tersebut telah siap bergabung dengan Garuda Indonesia setelah menempuh waktu pendidikan serta pelatihan penerbangan selama 16 bulan untuk meraih sertifikasi Private Pilot Licence (PPL), Commercial Pilot License (CPL) dan Instrument Rating.
Selanjutnya mereka akan mendapatkan pendidikan lanjutan selama enam bulan lagi untuk mendapatkan pendidikan “typerating” agar memenuhi kualifikasi dalam menerbangkan jenis pesawat yang akan mereka operasikan nantinya.
Direktur Utama Garuda Indonesia, Emirsyah Satar mengatakan bahwa kerjasama dengan BIFA ini sangat membantu pencapaian program ekspansi Garuda Indonesia ke depan khususnya dalam pemenuhan kebutuhan akan pilot.
“Sejalan dengan program pengembangan armada yang dilakukan, Garuda juga melaksanakan program pengembangan awak pesawat untuk menjamin ketersediaan pilot-pilot yang berkualitas”, tambah Emir.
Chairman BIFA, Robby Djohan mengatakan bahwa kerjasama pelatihan para penerbang dengan Garuda Indonesia telah berjalan kurang lebih selama tiga tahun dan telah menghasilkan lebih dari 100 pilot.
“Kerjasama ini merupakan bentuk dukungan BIFA kepada maskapai nasional Indonesia. Kami bangga telah menjadi bagian dalam program transformasi Garuda Indonesia, khususnya dalam mendukung Garuda Indonesia dalam merealisasikan visinya menjadi perusahaan penerbangan global melalui program Quantum Leap,” tambah Robby Djohan.
Saat ini Garuda Indonesia memiliki lebih dari 1000 pilot yang sebagian besar merupakan pilot Airbus 330 series dan Boeing 737-800 NG. Dengan pengembangan armada yang dilaksanakan, dan untuk memenuhi kebutuhan pilot hingga tahun 2015 mendatang, Garuda Indonesia akan merekrut lebih kurang sebanyak 400 calon pilot tambahan.
Untuk mengisi kebutuhan akan pilot-pilot tersebut, selain dengan BIFA, Garuda Indonesia juga bekerjasama dengan STPI Curug dan sekolah penerbang lainnya.
BIFA telah berhasil mendidik sebanyak enam angkatan pilot Garuda dengan jumlah sekitar 137 pilot dimana angkatan pertama diterima Garuda pada Maret 2010.
Para pilot angkatan pertama dan kedua telah bekerja menerbangkan pesawat – pesawat Garuda sebagai First Officer (FO), sementara angkatan ke tiga, ke empat dan ke lima masih menjalani pendidikan “typerating” di Garuda Indonesia Training Center (GITC).
Saat ini sebanyak 25 siswa pilot Garuda masih sedang menjalani pendidikan di BIFA.
BIFA merupakan sekolah penerbang berstandar internasional yang menawarkan pendidikan untuk berkarir di bidang industry aviasi sebagai penerbang. Melalui program pendidikan di BIFA para murid berkesempatan untuk mendapatkan sertifikat Commercial Pilot License (CPL) dengan standar yang tinggi.
(IP)
Pesawat Tenaga Surya Mulai Penerbangan Perdana
Pesawat percobaan bertenaga surya memulai penerbangan pertamanya melintasi benua dari Switzerland, Kamis (24/5), dengan tujuan untuk mencapai Afrika Utara pekan depan.
Pilot Andre Borschberg berencana membawa pesawat Solar Impulse jumbo jet pada penerbangan pertamanya ke Madrid, Spanyol pada Jumat.
Koleganyaa Bertrand Piccard akan mengambil kendali pesawat itu untuk putaran kedua penerbangan sejauh 2.500 km ke ibukota Maroko, Rabat.
Penerbangan ujicoba itu sempat tertunda selama dua jam karena landasan pacu di pangkalannya di Payerne, Switzerland diselimuti kabut.
Pesawat bertempat duduk tunggal ini dirancang untuk menghindari cuaca berkabut karena tidak dapat terbang memasuki awan.
Sebelum mendarat di Madrid pada Jumat pagi, Borschberg akan menghadapi tantangan lain termasuk, harus terbang melewati pegunungan Pyrenees yang memisahkan Prancis dengan Spanyol.
Piccard- putra penjelajah bawah laut Jacques Piccard dan cucu balonis Auguste Piccard akan melintasi Selat Gibraltar yang banyak embusan angin dari Eropa ke Afrika.
Tim itu diundang ke Maroko oleh Raja Mohammed VI untuk memamerkan pemanfaatan teknologi surya.
Maroko akan membangun pembangkit listrik besar tenaga surya di Ouarzazate. Pembangkit itu akan membentuk bangian jaringan tenaga surya di seluruh negeri itu berkapasitas 2000 megawatt menjelang tahun 2020.
Misi itu digambarkan sebagai ujicoba akhir bagi penerbangan mengelilingi dunia dengan pesawat canggih baru tahun 2014. Penerbangan itu akan meliputi persinggahan di AS, ujar Borschberg.
Tahun 2010, Swiss melakukan uji terbang tanpa henti selama 26 jam untuk mendemonstrasikan bahwa 12.000 sel surya yang dipasang pada pesawat itu bisa menyimpan energi surya cukup untuk mengoperasikan pesawat pada malam hari.
(Analisa)
Pasca insiden Sukhoi, Sky Aviation Tunda Buka Rute Dumai
Kecelakaan pesawat Sukhoi Super Jet 100 di Gunung Salak, Jawa Barat beberapa waktu lalu ternyata berpengaruh terhadap rencana Sky Aviation melayani penerbangan umum di Bandara Pinang Kampai, Kota Dumai, Provinsi Riau. Situasi itu diungkapkan Kepala Dinas Perhubungan Dumai, Marwan, Sabtu (26/5) tadi di Kota Dumai.
Menurut dia, manajemen maskapai Sky Aviation kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Dumai telah sepakat kembali membuka buka rute penerbangan komersil tujuan Dumai-Batam pulang pergi sebanyak 2 kali dalam sepekan. Sebelumnya rute sempat vakum selama lebih kurang 6 bulan karena kendala perizinan terbang.
Kesepakatan penerbangan umum ini bahkan sebelumnya telah diumumkan ke khalayak ramai masyarakat Dumai dan sekitarnya.
Namun, karena ada insiden kecelakaan penerbangan perdana Sukhoi, yang juga notabene jenis pesawat yang akan dipakai Sky Aviation, maka layanan terbang di Dumai mengalami penundaan. Kecelakaan yang merenggut belasan nyawa tersebut terjadi sebelum Sky Aviation memulai rencana terbang di Dumai pada 7 Mei 2012 lalu.
“Belum ada konfirmasi pihak Sky Aviation kapan bisa membuka rute penerbangan lagi di Dumai. Informasi mereka menunda penerbangan baru sebatas komunikasi lewat telepon,” kata Marwan.
Dia menjelaskan kondisi penerbangan komersil saat ini di bandara Pinang Kampai nihil rute dari maskapai umum. Kondisi disebabkan, selain kendala teknis di bandara, juga karena sedikitnya potensi penumpang yang keluar kota memanfaatkan jalur transportasi udara.
(Republika Online)
Penumpang pesawat “linglung” dibekuk di Miami
Seorang penumpang yang tampaknya “linglung” harus dibekuk di dalam satu jet American Airlines, Jumat (25/5), saat pesawat itu meluncur di landasan pacu setelah mendarat di Bandar Udara Internasional Miami. Dia menghadapi tuntutan hukum cukup serius.
Walau cukup menghebohkan, namun Ryan Snider (24), yang disebut-sebut “linglung” itu dipastikan tidak terkait jaringan terorisme manapun.
Karena dinyatakan melanggar instruksi awak kabin selama proses penerbangan berlangsung, Snider tidak pelak harus berurusan dengan FBI. Warganegara Kanada itu dibekuk dan kini menghadapi tuntutan federal karena mencampuri urusan awak kabin.
“Tak ada penumpang yang cedera atau kerusakan pada pesawat tersebut. Tampaknya tak ada unsur terorisme dan Snider tak tercantum di dalam daftar orang yang dilarang terbang,” kata Agen Khusus Michael Leverock di dalam satu pernyataan.
Snider bangkit dari kursinya dan bergegas ke bagian depan tak lama setelah pesawat tersebut mendarat dan sedang meluncur di landasan pacu dalam penerbangan dari Teluk Montego, Jamaika.
“Kami menghadapi pria yang kelihatannya linglung yang berdiri dari kursinya di Kabin Utama setelah pesawat mendarat di Miami, saat pesawat itu meluncur di landasan pacu,” kata Juru Bicara American Airlines Ed Martelle di dalam satu surel, sebagaimana dikutip AFP.
“Ia tak mematuhi instruksi anggota awak kabin agar duduk dan kemudian bergerak ke arah depan pesawat, tempat ia dibekuk. Ia diserahkan kepada polisi saat pesawat tiba di gerbang,” katanya.
Ia dibekuk beberapa penumpang lain dan awak penerbangan, kata seorang pejabat bandar udara.
Sebanyak 120 penumpang berada di dalam pesawat Boeing 757 itu, katanya.
(ANTARA News)
Ini Dia Proses Cuaca Hasil Analisa BPPT Saat Kecelakaan Sukhoi Terjadi
Saat kecelakaan Sukhoi Superjet 100 berbagai spekulasi dan analisis mengenai sebab musabab bermunculan, terutama mengenai faktor cuaca yang diduga menjadi penyebab kecelakaan yang menyebabkan 45 orang tewas.
Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) merilis hasil analisis cuaca menggunakan data sitra satelit MTSAT yang menyatakan bahwa pada saat terbang di sekitar Gunung Salak, awan tampak sangat rapat dengan liputan awan lebih dari 70% dan terdapat awan Cumulonimbus (Cb) sangat tebal dengan ketinggian sampai 37 ribu kaki.
Sementara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa saat kejadian tidak ada faktor cuaca yang cukup menonjol karena cuaca tergolong normal. Kemudian LAPAN bersama BMKG mengklarifikasi informasi tersebut dengan mengatakan, awan yang mengepung Gunung Salak bukanlah awan Cb melainkan awan tinggi biasa.
Dr. Tri Handoko Seto, peneliti Meteorologi Tropis dan praktisi Teknologi Modifikasi Cuaca di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), menjelaskan untuk melakukan analisis kecelakaan pesawat diperlukan informasi bukan hanya kondisi cuaca tapi juga proses cuaca yang terjadi.
“Kondisi cuaca mungkin saja hanya nampak gelap ketika terdapat awan dengan volume yang besar. Tetapi proses cuaca bisa memberikan informasi tentang dinamika awan yang bisa lebih menggambarkan tingkat bahaya,” kata Tri Handoko dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Jumat (24/5/2012).
Tri menambahkan, kondisi atmosfer regional dan profil vertikal juga diperlukan untuk mendukung analisis agar diperoleh gambaran yang lebbih akurat tentang situasi yang terjadi.
“Apalagi jika hendak melakukan analisis kotak hitam yang hanya berupa CVR (cockpit voice recorder) tanpa adanya FDR (flight data recorder), maka diperlukan informasi tambahan yang lebih akurat agar bisa menguji akurasi makna percakapan yang tercatat di cockpit pesawat,” terangnya.
Berikut analisis komprehensif proses cuaca saat kecelakaan Sukhoi Superjet 100 terjadi 9 Mei 2012 lalu.
1. Data historis
Berdasarkan data historis bulanan curah hujan di sekitar Gunung Salak, maka dapat diketahui bahwa pada bulan Mei curah hujan yang terjadi tidak terlalu besar. Dibandingkan curah hujan tertinggi pada bulan Januari sebesar 521,4 mm dan curah hujan terendah pada bulan Juli 100,5 mm maka curah hujan bulan Mei sebesar 211,5 mm termasuk cukup kecil untuk ukuran curah hujan di daerah tersebut.
2. Data angin regional
Data angin regional memperlihatkan bahwa massa udara yang masuk ke area Gunung Salak dan sekitarnya berasal dari tenggara. Angin ini membawa massa udara yang cukup kering.
3. Data suhu muka laut
Data rata-rata suhu muka laut tanggal 7-13 Mei di sebelah selatan Pulau Jawa memperlihatkan adanya anomali negatif yang mengindikasikan kurangnya aktifitas pembentukan awan di sekitar wilayah Pulau Jawa.
4. Data Radiosonde
Data radiosonde adalah data hasil pengukuran profil vertikal udara untuk mengetahui potensi pembentukan awan. Data radiosonde yang digunakan pada analisis ini adalah data radiosonde yang diluncurkan di Cengkareng tanggal 9 Mei jam 00 UTC (jam 7 pagi) dan jam 12 UTC (jam 12 malam). Hanya data ini yang secara temporal dan spasial mendekati waktu dan lokasi kecelakaan pesawat. Data radiosonde menunjukkan bahwa pada hari tersebut tidak terdapat peluang yang besar untuk terbentuknya awan Cumulonimbus (Cb).
5. Data tutupan awan
Data tutupan awan di daerah Gunung Salak dan sekitarnya pada tanggal 9 Mei 2012 ketika terjadi kecelakaan pesawat memang memperlihatkan tutupan awan yang sangat rapat. Ketinggian puncak awan juga di atas 30 ribu kaki. Awan-awan tersebut bergerak dari arah timur ke arah barat melewati area Gunung Salak dan sekitarnya pada jam 14-16 WIB.
Namun, yang perlu diingat adalah bahwa data tersebut menginformasikan puncak awan saja. Memang benar bahwa kondisi cuaca waktu itu terdapat awan dengan tinggi puncaknya sangat tinggi lebih dari 30 ribu kaki dengan covegare yang sangat luas.
Petugas ATC Bukan Penyebab Utama Potensi Risiko
Maskapai Garuda Indonesia mencatat faktor Air Traffic Control atau ATC hanya menyumbang 1,42% dari total hazard atau situasi yang berpotensi membahayakan penerbangan di Tanah Air.
VP Corporate Quality, Safety dan Corporate Garuda Indonesia Kapten Novianto Herupratomo mengatakan terdapat 6.116 laporan hazard atau situasi yang berpotensi dapat membahayakan penerbangan, hanya 2,3% atau 140 laporan dipengaruhi landasan pacu dan Air Traffic Control (ATC) hanya menyumbang 1,42% atau 87 laporan.
“Artinya, hazard atau potensi situasi yang dapat membahayakan di Tanah Air hanya 1,42% atau 87 kasus yang disebabkan kondisi di ATC,” kata Novianto.
Dia menambahkan laporan hazard di penerbangan udara ini hanya yang diterima Garuda Indonesia, bukan untuk keseluruhan maskapai di Tanah Air. Salah satu contoh laporan hazard ini soal komunikasi antara pilot dan petugas ATC soal kesalahan clearance, miss understanding.
Novianto menjelaskan ada 6.116 laporan hazard yang dicatat Garuda, yang dipengaruhi kondisi di runway (landasan pacu) hanya 2,3% atau 140 laporan, sedangkan yang dipengaruhi ATC hanya 1,42% atau 87 laporan.
“Jadi, tidak benar kalau ada pemberitaan bahwa ATC sebagai penyumbang utama kecelakaan. Harus dicatat, hazard itu bukan kecelakaan, namun hanya situasi yang berpotensi membahayakan penerbangan,” ucap Novianto.
Menurutnya, data hazard ini berdasarkan laporan dari safety data base Garuda yang terjadi seluruh bandara di Tanah Air.
Novianto menjelaskan berdasarkan laporan hazard of runway safety, laporan hazard keselamatan di landasan pacu, bukan laporan hazard untuk bandara secara keseluruhan periode 2009-2012 di Indonesia, ATC menjadi faktor utama penyebab hazard di landasan pacu yakni 62% dari 140 yakni 87 laporan. Laporan hazard of runway safety ini sendiri hanya menyumbang 2,3% terhadap hazard keseluruhan.
Untuk di kawasan Indonesia Timur, lanjut Novianto, dengan pengoperasian yang risiko tinggi karena banyak gunung yang memengaruhi wilayah udara, aerodrome design menjadi faktor utama penyumbang hazard yakni 32%, sisanya ATC 28%, dan lainnya.
Indonesia Air Traffic Controllers Association (IATCA) menyatakan over capacity atau kelebihan muatan di sejumlah bandara Tanah Air menjadi hambatan dalam mengelola navigasi penerbangan dan sudah mengancam keselamatan termasuk ketepatan waktu terbang. Untuk itu keberadaan Perum Navigasi mendesak didirikan dan tidak perlu subsidi dari pemerintah.
“Kami inginnya Perum Navigasi yang merupakan institusi baru sebagai pengelola tunggal navigasi di Tanah Air atau dikenal single provider secepatnya didirikan. Penundaan pendiriannya sudah mengganggu kinerja petugas air traffic control (ATC),” kata Presiden Indonesia Air Traffic Controllers Association (IATCA) I Gusti Ketut Susila.
Kelebihan Kapasitas
Penerbangan di Bandara Sepinggan Terganggu Akibat Banjir & Longsor
Samarinda Banjir besar di Balikpapan, Kalimantan Timur, yang terjadi Kamis (24/5/2012), mengganggu aktivitas penerbangan dari dan menuju Bandara Sepinggan. Sejumlah pesawat mengalami penundaan disebabkan cuaca.
Akibat cuaca yang di Balikpapan, penerbangan yang tertunda antara lain rute Balikpapan – Yogyakarta dari maskapai Garuda Indonesia dan Lion Air.
“Yang datang dari Surabaya tujuan ke Balikpapan juga tertunda, dari maskapai Batavia Air dan City Link,” kata Humas PT Angkasa Pura I Bandara Sepinggan Balikpapan, Husin, ketika dihubungi detikcom, Kamis (24/5/2012) sore WITA.
Meski demikian, Husin menegaskan banjir tidak sampai menggenangi area serta runway bandara.
“Tidak (tidak menggenangi area Bandara Sepinggan). Cuma penundaan penerbangan,” ujar Husin.
Sementara itu, Nasrudin, warga Manggar Balikpapan ketika dihubungi detikcom menyebutkan, antrean panjang sempat mewarnai jalan akses sekitaran menuju Bandara Sepinggan Balikpapan.
“Iya, sempat antre panjang kendaraan menuju bandara. Cuacanya di sekitaran sepinggan, berawan tebal,” ujar Nasrudin.
Keterangan diperoleh detikcom, banjir hingga sore ini, perlahan mulai surut. Akses jalan protokol perlahan dibuka kembali setelah sempat direndam banjir dengan variasi ketinggian air 1-2 meter.
“Juga ada longsor di Gang Banjar, Kelurahan Gunung Sari,” tambah Nasrudin.
Seperti diberitakan sebelumnya, banjir besar dan longsor di kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Kamis (24/5/2012), menelan korban jiwa. Laporan sementara, sebuah rumah yang dihuni 5 orang dalam satu keluarga, tewas tertimbun longsor.
Data diperoleh Kantor SAR Kaltim yang berkantor di Balikpapan, terdapat 7 titik lokasi banjir dengan ketinggian 1-2 meter. Banjir disebabkan menyusul terjadinya hujan deras dari pukul 04.00 WITA dini hari tadi hingga siang hari.
(detikNews)
Korut Bantah Ganggu Sistem Penerbangan Korsel
Korea Utara membantah telah mengacaukan sistem penerbangan Korea Selatan. Melalui televisi nasional KRT, Pyongyang mengatakan bahwa ini adalah salah satu tindakan putus asa dari para kelompok pembelot.
Sebelumnya, Seoul mengajukan komplain internasional kepada Korut. Seoul mengatakan sebanyak 250 penerbangannya dari dan menuju wilayah Korsel mengalami masalah dalam menggunakan sistem GPS atau sistem penanda lokasi global yang digunakan dalam navigasi pesawat.
Korsel menuduh tetangganya itu melakukan pengacauan sistem. Mereka melaporkannya kepada pihak persatuan telekomunikasi internasional serta ke organisasi penerbangan sipil internasional.
Korsel pun menyodorkan laporan bahwa Pyongyang memiliki alat yang mampu mengacaukan sistem GPS sejauh 100 kilometer. Selain tuduhan pengacauan sistem penerbangan, Korut juga dituduh melakukan serangan terhadap koneksi internet Korsel.
(Metrotvnews)
Indonesia Pasar Penting bagi Tukish Airlines
Turkish Airlines menjadikan Indonesia sebagai pasar penting dalam bisnis penerbangan.
“Dengan jumlah penduduk yang sangat besar, Indonesia tentu menjadi pasar penting bagi kami,” kata Vice Presiden Marketing and Sales wilayah Asia dan Timur Jauh Turkish Airline Ufuk Ugur di Istanbul, Turki, Rabu (23/5).
Seperti dilaporkan wartawan Media Indonesia Usman Kansong dari Istanbul, Turki, Indonesia menjadi pasar penting bagi Turkish Airline juga karena Asia merupakan pasar terbesar kedua setelah Eropa dalam bisnis penerbangan global. Pasar Eropa sebesar 41% dan pasar Asia 27%.
Menurut Ufuk Ugur, Turki berencana membuka penerbangan langsung dari Jakarta ke Istanbul. Saat ini, penerbangan dari Jakarta ke Istanbul harus transit di Singapura. “Kami sedang mengadakan penambahan pesawat. Jika pesawat baru tersedia, kami akan membuka penetrated langsung Jakarta-Istanbul,” kata Ufuk.
Target pasar di Indonesia adalah mereka yang melakukan umrah ke Tanah Suci. Dewasa ini banyak paket umrah yang menyertakan wisata ke Istambul.
“Dalam tiga bulan, Februari hingga April, terdapat sekitar empat ribu jemaah umrah yang menggunakan Turkish Airlines,” ujar General Manager Turkish Airlines Indonesia Ercan Uzman.
Turkish Airlines Indonesia memiliki dua kantor di Jakarta dan mempekerjakan 20 pegawai.
Turkish Airlines adalah perusahaan yang 49% sahamnya dimiliki pemerintah Turki dan 51% selebihnya dimiliki publik melalui pasar modal. Perusahaan penerbangan yang berdiri sejak 1933 itu kini memiliki 175 pesawat dengan 190 tujuan di seluruh dunia.
(Media Indonesia)
Garuda Indonesia dan Accor Group Tandatangani Kerjasama “Program Kemitraan Global”
Sebagai upaya untuk peningkatan layanan dan mengoptimalkan sinergi antara kedua perusahaan, Garuda Indonesia dan Accor Group pada hari ini, Rabu (23/5) melaksanakan penandatanganan Nota Kesepahaman / “Memorandum of Understanding (MoU)” dalam bidang “Kemitraan Global”.
Penandatanganan MoU tersebut dilaksanakan oleh Direktur Utama Garuda Indonesia, Emirsyah Satar dan Direktur Utama PT Accor Asia Pacific Corporation (AAPC) Indonesia, Gerard Guillouet di, Pullman Hotel, Jakarta Pusat.
Read more
