HighlightInternasional

Butuh Waktu Panjang Untuk Tingkatkan Peringkat FAA

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara harus bekerja keras untuk dapat meningkatkan peringkat Federal Administration Aviation atau FAA dari posisi kedua menjadi pertama agar bisa terbang ke Amerika Serikat.

Awal bulan Juni lalu Perwakilan Senior FAA untuk Asia Tenggara,
Australia, dan Selandia Baru Donald Ward di sela-sela seminar yang
bertajuk “US-Indonesia Aviation Working Group Member” di Kementerian Perhubungan, Jakarta, menilai waktu yang ditargetkan, yakni pada Juni 2015 terlalu singkat untuk memperbaiki seluruh sistem penerbangan di Indonesia.

“Waktu yang ditargetkan terlalu singkat karena banyaknya aspek yang harus dibenahi dan harus sesuai dengan standar kami,” ucapnya.

Selain itu, Donlad mengatakan pihaknya harus mengerahkan inspektur untuk melakukan penilaian dan pengkajian. “(Penilaiannya) setidaknya dua bulan kalaupun Indonesia sudah siap,” katanya. Meski demikian, lanjut dia, pihaknya mengapresiasi kinerja Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub selama 3,5 tahun yang terus meningkat.

“Saya rasa Indonesia sudah melakukan sesuai jalurnya, progresnya juga sudah bagus. Saya sudah bicara dengan Pak Muzaffar (Direktur Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara Kemenhub) pagi ini dan sudah banyak pekerjaan yang dilakukan,” jelasnya.

Diberitakan wartaekonomi, Muzaffar mengatakan, pihaknya telah
melakukan pertemuan dengan institusi pemerintah AS ini pada Mei 2015.

Dari pertemuan tersebut, FAA menemukan kekurangan terkait dengan regulasi untuk menjembatani masalah pengawasan dan pengecekan berkala dalam peraturan kelaikan udara di Kemenhub. “Ada delapan ‘critical element’ dari temuan FAA, salah satunya perundang-undangan, kemudian organisasi,” katanya.

Selain itu, lanjut dia, FAA juga menyoroti masalah sumber daya manusia seperti kebutuhan inspektur pesawat khusus. Muzaffar menjelaskan, inspektur untuk melakukan pengawasan terhadap jenis pesawat tertentu saat ini hanya terdiri dari dua orang yang itupun disuplai dari maskapai lokal.

“Inspektur saya itu harus memiliki rating [dari FAA], namun kita
persingkat dengan meminta industri kasih orang ke kita,” katanya.
Misalnya, kata dia, inspektur yang mengawasi Boeing 747 yang saat ini hanya dimiliki Garuda Indonesia dan Lion Air, Kemenhub mengambil satu personil dari keduanya.

“Untuk pengawasannya, inspektur dari Garuda Indonesia bertugas untuk Lion Air dan sebaliknya, kami sudah mempersiapkan ‘corrective action plan'(CAP) untuk masalah yang melibatkan FAA,” katanya. (*/Fjn)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker