Infopenerbangan,- PT Dirgantara Indonesia (Persero) telah berhasil memproduksi pesawat perintis N-219, yang telah melalui uji coba terbang pada pertengahan bulan lalu. Namun, pesawat ini masih harus menjalani rangkaian uji coba lagi dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub), jika ingin terbang di langit Indonesia secara komersial.

“Jadi harus ada tahapan yang ditunjukkan mereka hingga mereka dapat sertifikasi,” kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Agus Santoso.

Ketiga tes tersebut di antaranya adalah tes penerbangan (flight test) selama 500 sampai 600 jam. Tes olah gerak (static test), sampai sejau mana pesawat ini mampu menahan beban maksimal. Kemudian tes ketahanan tekanan (fatigue test) yang bisa melihat seberapa panjang usia ekonomis pesawat tersebut. Hasil fatigue test dapat menjadi pegangan para maskapai yang berencana memesan pesawat lokal ini.

“Itu kami tes dengan menggunakan simulator dengan beberapa (sensor) secara langsung diletakkan di titik-titik pesawat,” kata Agus.

Selain itu, Kementerian Perhubungan (Kemhub) juga mengusulkan untuk membuat unit modifikasi pesawat N-219 berjenis amfibi guna mengoptimalkan fungsi armada pesawat dalam menjangkau wilayah-wilayah di Tanah Air.

“Kami usulkan kepada PT DI untuk dimodifikasi menjadi amfibi. Di Indonesia pulaunya kecil, satu tempat dengan tempat lain ada yang hanya bisa dihubungkan dengan waterbase airport. (Amfibi) jadi jenis yang cocok untuk dikembangkan pada N-219 sehingga bisa menghubungkan semua pulau,” katanya. (*/NP)

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here