Highlight

Menanti Kiprah N219 di Rute Perintis

Wilayah Indonesia yang terdiri atas kepulauan, menjadikan Indonesia sangat membutuhkan konektivitas berupa alat transportasi guna melayani perpindahan orang maupun barang.

Moda transportasi laut tak dapat dipungkiri memiliki peran yang sangat penting. Namun realitas kondisi transportasi laut di Indonesia masih memiliki berbagai kendala keterbatasan fasilitas dan infrastruktur, seperti keterbatasan tempat sandar, hambatan jalur pelayaran yang dangkal dan sempit, keterbatasan gudang dan depo container, serta penyediaan pengedokan kapal.

Hal lainnya adalah minimnya layanan kapal perintis, di mana sejak 2010-2014, hanya terdapat 34 pelabuhan pangkal dan 529 pelabuhan singgah yang tersebar di seluruh kepulauan Indonesia dengan tingkat pertumbuhan pelabuhan sekitar 4 persen per tahun.

Oleh karena itu moda transportasi laut perlu didukung oleh moda lainnya seperti transportasi darat dan udara. Namun karena transportasi udara relatif lebih efisien, cepat dan aman, maka transportasi udara semakin menjadi pilihan bagi masyarakat.

Pertimbangan lain adalah terkait masalah akses yang tidak dapat dilakukan lewat jalur darat maupun laut dan hanya bisa dilakukan lewat jalur udara, seperti penerbangan perintis ke daerah-daerah pegunungan yang terpencil dan jauh dari lautan serta sulit dijangkau menggunakan alat transportasi darat.

Peran penerbangan perintis sebagai penghubung antar wilayah dan ke daerah-daerah terpencil tentunya sangat membutuhkan alat transportasi yang mampu mendarat di landasan pendek kurang dari 400 meter atau pesawat berkemampuan Short Take Off Landing (STOL).

Setelah lama mati suri, PTDI nampaknya terus berbenah, melakukan revitalisasi, restukturisasi, merekrut kembali insinyur dan bersama dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) tengah mempersiapkan pesawat, yaitu N219 yang merupakan pengembangan dari NC-212 dari sisi performance. seperti menggunakan glass cockpit panel berbasis LCD, dilengkapi radar cuaca G1000, memiliki pintu fleksibel serta memiliki volume kabin terbesar di kelasnya. N219 juga dirancang agar bisa membawa bahan bakar tambahan, karena tidak setiap daerah memiliki tempat pengisian bahan bakar.

Perkembangan terakhir, prototipe N219 sudah terbangun sekitar 90 persen. Untuk komponennya sementara 60 persen masih dari luar negeri dan 40 persen sisanya dari dalam negeri. Ditargetkan, N219 akan keluar hanggar perdana (roll out) bertepatan dengan Hari Kemerdekaan RI ke-70, sekaligus Hari Kebangkitan Teknologi pada Agustus ini.

Selanjutnya pesawat akan menjalani serangkaian tes terbang. Diharapkan pada akhir 2015 sudah mendapatkan sertifikasi dan pada 2016 sudah bisa diproduksi secara massal. Target produksi PTDI diperkirakan mencapai 24 unit pesawat setiap tahunnya.

Optimisme PTDI didukung oleh berbagai pihak yang sudah memesan lebih dari 200 unit pesawat. PTDI dikabarkan sudah mengantongi pesanan antara lain dari Lion Air 50 unit serta opsi 50 unit, PT NBA 20 unit serta opsi 10 unit, PT Aviastar Mandiri 20 unit dengan opsi 10 unit, PT Trigana Air Service 10 unit dengan opsi 5 unit, Pemda Papua dan Papua Barat 15 unit, Aceh 6 unit, Sulawesi 6 unit, Riau 4 unit, dan TNI Angkatan Laut 9-15 unit. Sedangkan pesanan dari Thailand sebanyak 18 unit.

Tabloid AVIASI
(Edisi 85 – Agustus 2015)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker