DomestikHighlight

Penerbangan Indonesia Waspadai MEA

Industri penerbangan tanah air mengalami pertumbuhan yang sangt pesat sejak awal tahun 2000. Meski demikian perkembangannya dunia penerbangan sipil saat ini mengalami begitu banyak tantangan dan beberapa hambatan.

Beberapa waktu lalu Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai, dari lima sektor jasa yang potensial dalam perdagangan bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) mendatang, ternyata sektor jasa penerbangan Indonesia merupakan sektor jasa yang paling tidak siap menghadapi MEA.

“Dari lima sektor jasa seperti hotel, engineer (keinsinyuran), penerbangan dan logistik, itu sektor jasa penerbangan Indonesia paling kedodoran,” kata Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Tenaga Kerja Benny Soetrisno Jakarta , Selasa (31/3/2015) lalu.

Dia menjelaskan, hal ini karena kurangnya pelatihan pilot di Indonesia. Pesawat lokal seperti Lion dan Susi Air saja, pilotnya harus ‘diimpor’ dari negara lain. “Pesawat penerbangan Indonesia seperti Lion dan Susi Air saja pilotnya dari asing. Ini karena kurangnya pelatihan di Indonesia,” ungkapnya.

Edwin Soedarmo, salah satu Direktur PT CSE Aviation Consulting, kurang lebih sependapat dengan memberikan penjelasan, bahwa harus diakui secara umum kebanyakan air operator akan kewalahan menghadapi persaingan. Airline yang masuk ke Indonesia seperti sudah bertekad untuk mengambil pasar Indonesia. “ Kemungkinan mereka adalah airline-airline yang memang sudah terkenal. Biaya operasi Indonesia lebih mahal di banding mereka ditambah bebas visa ke Indonesia, beberapa airline top Indonesia saya yakin masih bisa bertahan, tapi yang lainnya kemungkinan akan lengser satu persatu,” ungkapnya.

Pendapat sedikit berbeda terlontar dari Tengku Burhanudin, Sekretaris INACA, dia menjelaskan sebenarnya kalau melihat armada yang ada pesawat baru-baru semua dan untuk terbang jarak Indonesia ASEAN range sudah cukup. “ Masalah nya pemerintah tdk menerapkan equal treatment dg apa yg di dpt dr para negara tetangga kita. Negara tetangga mendptkan bea masuk nol persen untku sparepart pesawat sedang kita 5-12 persen itupun perlu waktu keluar dari pabean.” Jelasnya. (Eky)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker